TEORI BELAJAR YANG MENDUKUNG PEMBELAJARAN IPA
A. TEORI BELAJAR MENURUT GAGNE
Proses belajar tidak bersifat tunggal tetapi terdapat beberapa jenis belajar yang masing–masing mempunyai ciri–cirinya sendiri biarpun semuanya merupakan suatu proses belajar. Sekedar istilah ada pakar yang menggunakan istilah ”bentuk belajar” ada yang menggunakan istilah ”jenis belajar”
Robert M. Gagne menyusun sistematika bentuk atau jenis belajar yang diberi nama ”Lima jenis belajar” Dasar pemikirannya dipusatkan pada hasil belajar yang diperoleh, tetapi hasil itu dipandang sebagaima kemampuan internal (Capability) yang menjadi milik pribadi seseorang dan memungkinkan orang itu untuk melakukan sesuatu. Selain hasil belajar, Gagne juga meninjau proses belajar yang dilalui orang untuk sampai pada hasil itu.
Misalnya seorang yang telah mempunyai kemampuan main volley dengan baik, mestinya telah menjalani suatu proses belajar sebelumnya selama beberapa waktu.
Dalam meninjau aspek proses belajar, perhatian khusus diberikan pada syarat – syarat yang harus dipenuhi pelajar, supaya suatu proses belajar dapat berhasil (internal condition), dan pada syarat – syarat yang harus dipenuhi dalam lingkungan dimana proses belajar berlangsung agar efisien (eksternal condition).
- Sistematika ” Lima Jenis Belajar ”
Sebagaimana dikatakan diatas, uraian tentang sistematika ”Lima Jenis Belajar” disini, khusus memperhatikan hasil belajar yang diperoleh. Hasil belajar ini merupakan suatu kemampuan internal (capability) yang telah menjadi milik pribadi seseorang dam memungkinkan orang itu melakukan sesuatu atau memberikan prestasi tertentu(performance). Misalnya, siswa yang telah memiliki konsep ”pohon” dan ”bunga”, mampu untuk menunjukkan tanaman yang tergolong ”pohon” dan tanaman yang tergolong ”bunga”. Dari prestasi demikian nampak jelas bahwa siswa memiliki konsep yang tepat. Dimilikinya konsep merupakan kemampuan internal yang dapat langsung nampak, sedangkan perbuatan merupakan tingkah laku yang dapat diamati dan nampak jelas.
Sistematika ini mencakup semua hasil belajar yang dapat diperoleh; namun tidak menunjukkan setiap hasil belajar atau kemampuan internal satu persatu, tetapi mengelompokkan hasil–hasil belajar yang mempunyai ciri–ciri sama dalam satu kategori. Maka, dapat dikatakan, bahwa sistematika Gagne meliputi lima kategori hasil belajar, yang masing-masing mencakup sejumlah kemampuan internal yang bercirikan sama dan sekaligus berbeda sifatnya dari kemampuan internal dalam kategori lain. Misalnya, keterampilan mengetik, mengendarai kendaraan bermotor, main sepak bola dan main volley, semuanya merupakan keterampilan motorik, karena mempunyai ciri–ciri yang sama, meskipun bidang dimana orang mempunyai keterampilan itu lain–lain. Karena adanya ciri yang sama, semua keterampilan itu dapat dimasukkan dalam kategori yang sama dan dapat dipelajari lepas dari bidang di mana orang memiliki keterampilan itu. Kalau ciri – ciri khas dan kemampuan internal dalam masing–masing kategori telah diketahui, jauh lebih mudah mempelajari ciri – ciri khas dari proses belajar yang membawa ke hasil belajar tertentu. Proses belajar itu dapat di pandang sebagai jalur atau saluran yang harus dilalui. Dengan demikian, terdapat lima jenis yang masing–masing mempunyai jalur/saluran dengan hasilnya sendiri
Perlu diingatkan juga, bahwa sistematika ”Lima Jenis Belajar” tidak disusun berdasarkan suatu urutan hierarkis, di mana jenis belajar yang satu menjadi landasan bagi jenis belajar yang lain. Maka, urutan pembahasan kelima jenis belajar, sebagaimana disajikan dibawah ini, tidak mencerminkan suatu hierarkis, kecuali untuk tempat sub jenis dalam jenis belajar kemahiran intelektual. Namun, tetapi ada kemungkinan, bahwa unsur dari jenis belajar yang satu memegang peranan dalam jenis belajar lain, misalnya memiliki pengetahuan (informasi verbal) ikut berperan dalam belajar keterampilan motorik.
- Informasi verbal
- Kemahiran intelektual Belajar bidang kognitif
- Pengaturan kegiatan kognitif
- Keterampilan motorik–Belajar di bidang sensorik–motorik
- Sikap–Belajar di bidang dinamik-afektif
(Sistematika menurut R.Gagne) (Sistematika menurut aspek-aspek kepribadian yang lazim digunakan dalam Ilmu Psikologi).
- Informasi verbal (verbal information)
Yang dimaksud ialah pengetahuan yang dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa, lisan, dan tertulis. Pengetahuan itu diperoleh dari sumber yang menggunakan bahasa juga, lisan atau tertulis.
Informasi verbal meliputi:
– Cap verbal : kata yang dimiliki seseorang untuk menunjuk pada obyek–obyek
yang dihadapi, misalnya kata ”kursi” untuk benda tertentu.
– Data/fakta : kenyataan yang diketahui, misalnya ”Negara Indonesia dilalui
khatulistiwa”.
Jadi yang memiliki pengetahuan tertentu, berkemampuan untuk menuangkan pengetahuan itu dalam bentuk bahasa yang memadai, sehingga dapat dikomunikasikan pula kepada orang lain. Mempunyai informasi verbal memegang peranan cukup penting dalam kehidupan manusia, karena tanpa sejumlah pengetahuan orang tidak dapat mengatur kehidupan sehari-harinya dan tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain secara berarti. Maka, di sekolah pun siswa harus belajar memperoleh pengetahuan di berbagai bidang studi, sehingga menjadi orang yang dapat dikatakan ”berpengetahuan”. Dalam banyak hal, pengetahuan berkaitan satu sama lain, sehingga seseorang dapat memperoleh seperangkat pengetahuan (body of knowledge) di berbagai bidang, baik bidang yang lebih bersifat praktis, maupun yang lebih bersifat teoritis (bidang studi). Misalnya, seorang ibu rumah tangga memiliki seperangkat pengetahuan sebagai bekal untuk mengurus kerumahtanggaan, seorang hakim memiliki seperangkat pengetahuan sebagai bekal dalam memimpin sidang pengadilan dan memberikan keputusan. Makin luas pengetahuan seorang dibidang studi yang menjadi spesialisasinya, makin besar kemungkinan dia berkembang menjadi seorang ahli di bidang itu, karena pengetahuan itu menjadi bahan untuk berfikir.
- Kemahiran intelektual (Intellectual skill)
Yang dimaksud ialah kemampuan untuk berhubungan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya konsep dan berbagai lambang/simbol (huruf, angka, kata, gambar). Misalnya, seorang akan menempuh ujian mengemudi untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi A. Ujian itu, biasanya, terdiri atas dua bagian, yaitu praktek dan teori. Untuk menempuh ujian bagian praktek, orang itu harus turun ke jalan dan membuktikan kemampuannya membawa kendaraan mobil di tengah-tengah keramaian lalu lintas. Namun, untuk menempuh ujian bagian teori, orang itu tidak mutlak perlu diharuskan turun ke jalan, cukuplah petugas kepolisian memperlihatkan sebuah peta atau denah yang menggambarkan suatu situasi lalu lintas tertentu dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dengan demikian, pengetahuan calon pemegang Surat Izin Mengemudi dapat diuji melalui representasi visual dari situasi lalu lintas yang dihadapi di jalan.
Kategori kemahiran intelektual terbagi lagi atas empat sub kemampuan yang diurutkan secara hierarkis, yaitu sub kemampuan yang ditaruh di bawah menjadi landasan bagi sub kemampuan yang diatasnya dan tercakup di dalamnya. Ini berarti, bahwa orang yang belum memiliki sub kemampuan yang bernomor lebih rendah, akan mengalami kesulitan dalam memperoleh sub kemampuan yang bernomor lebih tinggi.
Adapun empat subkemampuan adalah sebagai berikut :
(a) Diskrimninasi jamak (Multiple Disckrimination).
Diskriminasi jamak ialah kemampuan untuk mengadakan diskriminasi antara obyek – obyek berdasarkan ciri – ciri fisik yang berbeda antara obyek – obyek itu (Rohman, dkk; 1991:11).
Berdasarkan pengamatan yang cermat terhadap berbagai obyek, orang mampu membedakan antara obyek yang satu dengan yang lain. Selama mengamati, dibentuk berbagai persep, yaitu hasil mental dari pengamatan. Dalam persep di kenal ciri – ciri fisik yang khas bagi masing – masing obyek, yaitu warna, bentuk, ukuran, panjang, lebar, kasar-halus, bunyi, bau dan lain sebaginya. Berdasarkan persep-persep itu, orang mampu membedakan obyek yang satu dengan yang lain, meskipun mungkin mirip satu sama lain, misalnya menyebutkan merk mobil – mobil yang lewat di jalan. Kemampuan untuk mengadakan diskriminasi semacam ini, oleh Gagne sudah di pandang sebagai kemahiran intelektual. Hasil belajar diskriminasi jamak antara lain :
– Anak – anak TK menemukan perbedaan – perbedaan antara benda menurut ciri – ciri fisiknya, yaitu bentuk, ukuran, warna, panjang, lebar, kasar, halus, dan bunyi.
– Anak SD dapat membedakan bentuk – bentuk huruf (misalnya D dan F) dan bentuk – bentuk angka (misalnya 6 dan 7)
– Siswa SMP bisa membedakan bentuk segitiga dengan lingkaran ; garis panjang denga garis lengkung ; rasa asin, bau busuk; bau harum.
(b) Konsep (Koncep)
Konsep ialah kemampuan untuk mengadakan diskriminasi antara golongan – golongan obyek dan sekaligus mengadakan generalisasi dengan mengelompokkan obyek – obyek yang mempunyai satu atau lebih ciri yang sama.
Orang yang memiliki konsep, mampu mengadakan abstraksi terhadap obyek – obyek yang dihadapi, sehingga obyek ditempatkan dalam golongan tertentu (klasifikasi). Konsep sendiri pun dapat di lambangkan dalam bentuk suatu kata yang mewakili konsep itu; jadi lambang mental (konsep) dituangkan dalam bentuk suatu kata (lambang bahasa).
Konsep dibedakan atas konsep konkret dan konsep yang harus didefinisikan. Konsep konkret adalah pengertian yang menunjuk pada obyek – obyek dalam lingkungan fisik. Konsep itu mewakili golongan benda tertentu, seperti meja, kursi, pohon dan lain sebagainya; golongan sifat tertentu seperti wanra dan bentuk dal lain sebagainya ; relasi tempat diantara benda – benda, seperti di atas, di bawah, di samping, dan lain sebagainya. Golongan perbuatan tertentu seperti duduk, mengangkat, menurunkan. Orang yang memiliki konsep, mampu untuk menunjukkan benda atau perbuatan tertentu yang diwakili dalam konsep itu; dengan menunjuk pada realitas dalam lingkungan fisik, dia memberikan prestasi yang yang membuktikan bahwa dia sudah mempunyai konsep yang tepat. Misalnya, anak kecil yang disuruh menaruh piring di bawah meja, tetapi kemudian menaruhnya di atas meja, terbukti belum memiliki konsep konkret ”di bawah”. konsep konkret diperoleh melalui pengamatan terhadap lingkungan hidup yang fisik, yang bermateri. Konsep yang didefinisikan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk pada realitas dalam lingkungan hidup fisik, karena realitas itu tidak bermateri. Realitas yang tidak bermateri, tidak dapat diamatai secara langsung. Misalnya, anak A adalah saudara sepupu anak B; ini merupakan suatu kenyataan, tetapi, kenyataan itu tidak dapat diketahui dengan mengamati anak A dan anak B saja. Kenyataan itu diberitahukan melalui penggunaan bahasa dan sekaligus, dijelaskan apa yang dimaksud dengan ”saudara sepupu” ; maka konsep yang didefinisikan, diajarkan tanpa ada kemungkinan untuk menunjukkan dua orang bersaudara sepupu hanya dengan mengamati dua orang itu. Konsep yang demikian biasanya, telah dituangkan dalam suatu definisi ; maka timbullah istilah ”konsep yang didefinisikan”. Misalnya, saudara sepupu ialah ”anak dari paman atau bibi”; keponakan/ kemenakan ialah ”anak dari kakak atau adik sekandung”; lingkaran ialah ”garis tertuptup yang berbentuk bundar dan memiliki jari – jari sama panjang”. Siswa yang sudah sampai di Sekolah Menengah akan belajar banyak konsep semacam itu, misalnya ”kebenaran, keadilan, kekeluargaan”. Seorang mahasiswa tidak mungkin menjadi ahli di suatu bidang studi tanpa memiliki seperangkat konsep yang didefinisikan, misalnya mahasiswa di Fakultas Ilmu Pendidikan anak memiliki konsep seperti ”pendidikan, lingkungan, keturunan, pembawaan” dan menggunakannya dalam membahas masalah – masalah pendidikan sekolah.
(c) Kaidah (Rule)
Kaidah ialah kemampuan untuk menghubungkan beberapa konsep, sehingga terbentuk suatu pemahaman baru yang mewakili kenyataan yang biasanya terjadi. Bila dua konsep atau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu ketentuan yang merepresentasikan suatu keteraturan. Orang yang telah mempelajari suatu kaidah, mampu menghubungkan beberapa konsep. Misalnya, seorang anak yang berkata “ Benda yang bulat berguling di alas miring” telah menguasai konsep “benda”, “bulat”, “alas”, “miring” dan “berguling” dan menentukan adanya suatu relasi tetap antara kelima konsep itu. Seandainya anak itu tidak menguasai tiga konsep dasar, maka, dengan sendirinya, dia tidak menguasai kaidah “Benda yang bulat berguling”. Maka, memiliki kaidah mengandaikan kemampuan menguasai konsep – konsep yang relevan, yang bersama – sama membentuk kaidan itu. Di sini nampak jelas apa yang dimaksud dengan urutan hierarkis, sebagaimana dikatakan oleh Gagne.
Selama belajar di sekolah, akan memperoleh banyak kaidah yang , menjadi miliknya; hal itu memungkinkannya untuk maju dalam belajar, khususnya di bidang belajar kognitif. Misalnya dalam rangka pelajaran IPA, siswa memperoleh kaidah “udara yang lembab mengakibatkan besi berarat” dan “Air yang dimasukkan dalam ruang bersuhu nol derajat Celcius, atau kurang dari itu, akan membeku”. Berdasarkan penguasaan kaidah – kaidah semacam itu, siswa memahami kenyataan dalam alam fisik dan menjadi mampu untuk mengatur alam fisik dan menjadi mampu untuk mengatur alam fisik. Kaidah merupakan suatu representasi mental dari kenyataan hidup dan sangat berguna dalam mengatur kehidupan sehari – hari. Kaidah – kaidah diajarkan melalui bahasa dan biasanya dituangkan dalam bentuk suatu kalimat, misalnya ”Perkembangan anak dipengaruhi oleh keturunan dan lingkungan” dan ”Dua kali satu pon sama dengan satu kilo”.
(d) Prinsip (Higher – order rule)
Prinsip ialah kemampuan untuk menggabungkan beberapa kaidah sehingga terjadi pemahaman yang lebih tinggi yang membantu memecahkan suatu problem atau masalah. Dalam prinsip telah terjadi kombinasi dari beberapa kaidah, sehingga terbentuk suatu kaidah yang bertaraf lebih tinggi dan lebih kompeks. Kaidah semacam itu, disebut “prinsip”. Berdasarkan prisip yang dipegang, orang mampu memecahkan suatu problem dan, kemudian, menerapkan prinsif itu pada problem yang jelas.
(3) Pengaturan kegiatan kongnitif (Cognitive strategi)
Kemampuan ini merupakan suatu kemahiran yang berbeda sifat dengan kemahiran – kemahiran intelektual yang dibahas sebelumnya; maka diberi nama tersendiri supaya tidak dicampur – adukan dengan konsep dan kaidah. Orang yang memiliki kemamuan ini, dapat menyalurkan dan mengarahkan aktifitas kognitifnya sendiri, khususnya bila sedang belajar dan berpikir. Ruang gerak kegiatan pengaturan kognitif adalah aktifitas mentalnya sendiri, sedangkan ruang gerak kemahiran intelektual ialah representasi dalam kesadaran terhadap lingkungan hidup dan diri sendiri. Pengaturan kegiatan kognitif mencakup penggunaan konsep dan kaidah yang telah dimiliki, terutama bila sedang menghadapi suatu problem. Orang yang mampu mengatur dan mengarahkan aktivias mentalnya sendiri di bidang kognitif, akan jauh lebih efisien dan efektif dalam mempergunakan semua konsep dan kaidah yang pernah dipelajari, dibanding dengan orang yang tidak berkemampuan demikian.
Siasat – siasat semacam itu, oleh Gagne disebut ‘cognitive strategy’ , yang merupakan suatu cara menangani aktivitas belajar dan berpikirnya sendiri. Sebagimana seorang jenderal ABRI akan memikirkan lebih dahulu, bagaimanakah sebaiknya cara menyerang pihak musuh sebelum menggerakkan pasukannya, demikian pula seorang yang bertekad untuk belajar dan berpikir sebaik mungkin, akan menyusun rencana kerja lebih dahulu dan mempertimbangkan kemungkinan – kemungkian yang terbuka untuk sampai sasaran yang telah ditentukan. Misalnya, seorang mahasiswa yang mengetahui banyak sekali tentang “cara belajar yang efisien” dan memahami beberapa kaidah tentang penyusunan catatan kuliah dan penguasaan materi yang dibahas dalam buku literatur. Namun, ini semua belum berarti mahasiswa itu telah menemukan cara belajar yang paling efisien dan efektif bagi dirinya sendiri, mengingat keadaan dirinya dan keadaan lingkungannya. Dia harus masih mencari bentuk pelaksanaan, sampai akhirnya menemukan bentuk yang paling memuaskan baginya. Dengan demikian, dia telah berhasil menemukan suatu bentuk pengaturan kegiatan kognitif, dalam hal ini belajarnya sendiri. Misalnya pula, seorang siswa yang harus memecahkan suatu persoalan matematika mungkin sekali akan tertolong, bila dia membuat suatu gambar atau menuangkan data dalam bentuk suatu grafik. Cara – cara itu merupakan suatu heuristik dan dengan demikian, siswa itu mengatur kegiatan kognitifnya sendiri. Contoh lain : atas prakarsa OSIS, akan diselenggarakan malam kesenian. Sekolompok siswa diberi tugas untuk mencari dana tambahan untuk menyelenggarakan malam kesenian itu. Panitia pencari dana ini mengadakan rapat untuk menentukan, dengan cara bagaimana dana tambaha itu akan dicari. Cara yang dapat ditempuh disebut – sebut lebih dahulu dan ditulis tanpa dinilai efektivitasnya; setelah itu, masing – masing cara ditinjau secara mendalam untuk kemudian dipilih cara yang dinilai akan paling berhasil. Maka, panitia itu mengikuti suatu prosedur berunding yang akhirnya, sampai pada suatu keputusan; dengan demikian, kelompok siswa itu mengatur dan mengarahkan kegiatan kognitifnya sendiri dalam menghadapi problem pencarian dana. Dalam ketiga contoh itu orang belajar untuk kelak bertindak sama.
Seorang konselor sekolah menengah kerap membantu siswa memecahkan berbagai problem yang mereka hadapi, dengan cara menyarankan suatu prosedur tertentu, suapaya dapat ditemukan penyelesaian yang memuaskan. Misalnya, siswa yang harus menentukan pilihan bidang studi lanjutan setelah tamat, dapat meninjau keadaan diri sendiri, keadaan keluarganya dan keadaan bidang pendidikan sekolah lanjutan lebih dahulu; kemudian menghubungkan data tentang berbagai keadaan itu sama lain dan akhirnya menentukan bidang studi di mana dia berharap akan paling berhasil. Prosedur semacam ini akan membantu dalam menemukan penyelesaian atas masalah yang dihadapi; dengan demikian siswa itu dibantu dalam menyalurkan arah pikirannya sendiri. Dia sekaligus belajar untuk kelak berbuat yang sama.
Maka, jelaslah kiranya bahwa kemampuan mengatur kegiatan kognitif pada dirinya sendiri, mendapat aplikasi yang luas sekali. Makin mampu seseorang dalam hal ini, makin baik pula hasil pemikiranya.
- Keterampilan motorik (motorik skill)
Orang yang memiliki suatu keterampilan motorik, mampu melakukan suatu rangkaian gerak – gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak – gerik berbagai anggota badan secara terpadu. Keterampilan semacam ini disebut ”motorik”, karena otot, urat dan persendian, terlibat secara langsung, sehingga keterampilan sungguh – sungguh berakar dalam kejasmanian. Ciri khas dari keterampilan motorik ialah otomatisme, yaitu rangkaian gerak-gerik berlangsung secara teratur dan berjalan dengan lancar, tanpa dibutuhkan banyak refleksi tentang apa yang harus dilakukan dan mengapa diikuti urutan gerak-gerik tertentu. Misalnya, seorang sopir mobil sudah menguasai keterampilan mengendarai kendaraannya sedemikian rupa, sehingga konsentrasinya tidak seluruhnya termakan oleh penanganan peralatan mengendarai dan perhatinnya dapat dipusatkan pada arus lalu-lintas di jalan.
Dalam kehidupan manusia, berketerampilan motorik memegang peranan yang sangat pokok. Seorang anak kecil harus sudah menguasai berbagai keterampilan motorik, seperti mengenakan pakaiannya sendiri, mempergunakan alat-alat makan, mengucapkan bunyi-bunyi yang berarti, sehingga bisa berkomunikasi dengan saudarasaudara dan lain sebagainya. Pada waktu masuk Sekolah Dasar, anak memperoleh keterampialn-keterampilan baru, seperti menulis dan memegang alat tulis dan membuat gambar-gambar; keterampilan – keterampilan ini menjadi bekal dalam perkembangan kognitifnya. Sewaktu anak di Sekolah Menengah, dia masih mendapat pelajaran mengembangkan keterampilan motorik, seperti berolahraga. Banyak pula tersedia kursus yang mengajarkan berbagai keterampilan motorik, seperti, mengendarai mobil, mengetik, menjahit, menggunakan ”keyboard” pada komputer.
- Sikap (attitude)
Orang yang bersikap tertentu, cenderung menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek itu, berguna/berharga baginya atau tidak. Bila obyek dinilai ”baik untuk saya”, dia mempunyai sikap positif; bila obyek dinilai ”jelek untuk saya”, dia mempunyai sikap negatif. Misalnya, siswa yang memandang belajar di sekolah sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat baginya, memiliki sikap yang positif terhadap belajar di sekolah; dan sebaliknya kalau ada siswa memandang belajar di sekolah sebagai sesuatu yang tidak berguna. ”sikap” dan ”niai” (Value) kerap disamakan meskipun ada ahli psikologi yang memandang nilai sebagai ”sikap sosial”, yaitu masyarakat luas terhadap sesuatu, seperti sikap hormat terhadap bendera nasional dan sikap menolak tindakan korupsi. Orang-perorangan dapat mengambil oper sikap sosial itu dan menjadikannya sikap pribadi, atau menolaknya dan menentukan sikap sendiri.
Sikap merupakan kemampuan internal yang berperanan sekali dalam mengambil tidakan, lebih-lebih bila terbuka berbagai kemungkinan untuk bertindak. Orang yang memiliki sikap jelas, mampu untuk memilih secara tegas di antara beberapa kemungkinan. Misalnya, mahasiswa yang harus memilih antara belajar untuk mempersiapkan ujian lisan atau pergi nonton bersama pacarnya pada waktu yang bersamaan. Yang mana akan dipilih, tergantung dari sikapnya terhadap kelulusan dalam diri dan nanti memetik hasilnya yaitu suatu perasaan positif. Sekali – sekali guru memberikan komentar yang bersifat meneguhkan, lebih – lebih setelah siswa telah berhasil mengatasi suatu tantangan khusus. Ada baiknya tenaga pendidikan tidak hanya menggunakan kata ”senang”, tetapi kata-kata yang mengandung perasaan tertentu seperti akrab, antusias, bahagia, bebas, terpikat, cinta, kagum, betah, nyaman, nikmat, riang, rileks, rindu, sabar, tenang, harum, tabah, terpesona, takjub. Dengan demikian siswa mendapat bekal kosa kata yang luas dan ekspresi rasa senang yang bervariasi.
SUMBER : https://arifinmuslim.wordpress.com
TARIMOKASIH MANDE







0 komentar:
Posting Komentar